Beberapa hari ini nurani dunia kembali disentak oleh tragedi kemanusiaan di Myanmar. Tak kurang dari 71 korban jiwa melayang dalam agresi atas warga muslim. Ribuan warga Rohingya lainnya coba mengungsi ke Bangladesh, namun mendapat penolakan. Lebih 80 ribu anak-anak telantar dan kelaparan. PBB bahkan menyebut tragedi ini sebagai pembantaian sistematis (genosida) pemerintah Myanmar terhadap muslim Rohingya.

Prihatin dan tidak tinggal diam atas tragedi kemanusiaan tersebut, IHAM (Indonesia Humanitarian Alliance for Myanmar) meluncurkan Program Humanitarian Assitance for Sustainable Community (HASCO).

Program bersama oleh puluhan lembaga amil zakat (LAZ) itu diresmikan pada Kamis, 31 Juli 2017, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jl. Pejambon no.6 Jakarta Pusat.

Secara informal, aliansi sudah terbentuk sejak November 2016 lalu, dan sudah bekerja membantu korban tragedi di Rakhine Myanmar.

Menurut Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Dakwah Ade Salamun, program dimaksudkan untuk membantu penanganan konflik sosial dan permasalahan kemanusian di wilayah negara bagian Rakhine, Myanmar.

Program meliputi: Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, dan Humanity Relief. Dalam implementasinya, HASCO difasilitasi oleh Kementrian Luar Negeri.

Peresmian HASCO dihadiri Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, Dubes Myanmar untuk Indonesia, Dubes Indonesia untuk Myanmar Salman Al Farisi, serta pimpinan dan perwakilan NGO Islam seperti LAZIS Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, PKPU, MDMC, dompet dhuafa, PBNU, LAZIS wahdah, LMI, dll.

Untuk awalan, para anggota aliansi telah iuran dana komitmen program sebesar 2 juta USD. (SAS/rills/AA)

Related Post

Leave us a reply

*

*

two × 1 =