Domestikasi kambing, lebih tua ketimbang domestikasi sapi. Konon, penjinakan kambing mula-mula di daerah pegunungan Asia Barat pada sekitar 8000-7000 SM.
Diperkirakan, kambing ternakan (Capra aegagrus hircus) berasal dari keturunan tiga macam kambing liar yang sudah terdomestikasi yaitu: bezoar goat atau kambing liar Eropa (Capra aegagrus), kambing liar India (Capra aegagrus blithy), dan markhor goat atau kambing markhor (Capra falconeri).
Kebanyakan kambing ternakan di Asia berasal dari keturunan bezoar goat dan kambing liar Asia Kecil (Capra aegagrus hircus). Populasi kambing ini tersebar luas di daerah antara Palistan dan Turki. Dikenal dengan nama kambing kirgiz, mingulian, sirli, gaddi, dan kambing barli.
Dari persilangan kambing liar India dan markhor goat berbiak kambing ternakan di Kaukasus, Turkistan, India, Iran, Mongolia, dan Asia Tengah. Contohnya adalah kambing Ettawa, Benggala, dan Angora.

Kambing Indonesia
Indonesia memiliki kambing lokal khas yaitu kambing kacang. Kambing berukuran kecil ini sudah terkenal sejak tahun 1990-an. Setelah kolonial Belanda mengimpor bibit kambing India dan Eropa, jenis kambing di tanah air semakin beragam. Diternakkan untuk diambil daging, susu, dan serba guna (kambing dan susu).

1. Kambing Kacang. Kambing asli Indonesia dan Malaysia. Sangat subur (profilik), lincah, tahan cuaca, dan mandiri. Diambil daging dan kulitnya. Ciri-ciri: Bulu pendek (plontos) dengan warna putih, hitam, coklat; baik jantan maupun betina bertanduk pedang melengkung ke atas-belakang; Telinga pendek dan menggantung; Leher pendek, punggung melengkung; Di Sulawesi ada kambing mirip kambing kacang yang disebut kambing marica. Namun ukurannya lebih kecil dan tidak bertanduk.
2. Kambing Saanen. Berasal dari Swiss, paling produktif sedunia dalam menghasilkan susu. Cocok hidup di dataran tinggi di atas 1000 dpl dan dalam kandang tertutup; Ciri-ciri: Kepala kecil dan bentuknya lancip; telinag kecil, pendek, tegak ke depan dan samping; Umumnya tak bertanduk; Bulu putih, krem dengan bercak hitam; Ambing dan puting susu besar serta lunak; Induk sering beranak kembar dua.
3. Kambing Gembrong. Hanya ada di Desa Bugbug, Culik, dan Bunutan (Bali). Pemeliharaan dengan sistem semi-intensif. Panjang bulu putih bisa mencapai 25 cm. Yang jantan berjumbai pada dahi hingga dapat menutupi mata dan mukanya.
4. Kambing Peranakan Ettawa (PE). Hasil persilangan kambing Ettawa atau Jumnapari (India) dan kambing kacang. Penghasil daging dan susu unggul. Ciri-ciri: Bentuk muka cembung dan berjanggut; Bergelambir di bawah lehernya; Telinga panjang, lembek, menggantung dan ujung agak berlipat; Tanduk tegak ke belakang, ujungnya sedikit melingkar; Bulu kombinasi warna putih, hitam, dan coklat; Cocok di dataran rendah sampai panas.

Hama & Penyakit
1. Mencret. Disebabkan bakteri Escherichia coli yang menyerang anak kambing berusia 3 bulan. Pengobatan: antibiotika dan sulfa yang diberikan lewat mulut.
2. Radang Paru (Pneumonia). Dipicu ventilasi kandang yang jelek dan lembab serta bau, yang cocok bagi bakteri microbacterium sp. Gejala: batuk, hidung berlendir, nafas ngos-ngosan dan berat, demam, berat badan menurun, sering menunduk. Penyembuhan: diisolasi dan disuntik antibiotika seperti gentamycin 5% injeksi dengan dosis 2 ml/25 kg bobot. Secara tradisional diobati dengan rebusan daun asam.
3. Dakangan atau Orf. Disebabkan virus Orf. Menimbulkan keropeng atau kerak hitam di daerah moncong serta luka di gusi dan sekitar mulut. Harus dikarantina dan diobati dengan antibiotika semisal tetracylin atau tylosin.
4. Kembung. Penyebab: pemberian makanan yang tak teratur atau makan rumput berembun. Gejala: lambung kambing membesar dan dapat menyebabkan kematian. Untuk itu diusahakan pemberian makan yang teratur jadwal dan jumlahnya. Jangan digembalakan terlalu pagi. Pengendalian: memberikan gula yang diseduh dengan asam, selanjutnya kaki kambing bagian depan diangkat ke atas sampai gas keluar.
5. Cacingan. Semua usia kambing dapat terserang penyakit ini. Penyebab: cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata). Pengendalian: diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan lewat minuman, dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis 220 mg/kg berat tubuh kambing.
6. Kudis. Penyakit menular yang menyerang kulit pada semua usia. Akibatnya, produksi kambing merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak kambing. Penyebab: parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis. Gejala: tubuh kambing lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor. Pengendalian: dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot kambing dengan Coumaphos 0,05-0,1%.

Pengendalian dan Pencegahan
Secara umum pengendalian dan pencegahan penyakit yang terjadi pada kambing dapat dilakukan dengan:
• Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang.
• Mengontrol anak kambing (cempe) sesering mungkin.
• Memberikan nutrisi dan makanan penguat yang mengandung mineral, kalsium dan mangannya.
• Memberikan makanan sesuai jadwal dan jumlahnya, Hijauan pakan yang baru dipotong sebaiknya dilayukan lebih dahulu sebelum diberikan.
• Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang terkontaminasi siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu.
• Sanitasi yang baik, sering memandikan kambing dan mencukur bulu.
• Tatalaksana kandang diatur dengan baik.
• Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada kambing yang sakit.

Potensi Indonesia
Dari Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Ternak di Bogor dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan di Indonesia sangat cocok bagi budidaya kambing dari jenis yang bisa dijadikan sekaligus pemasok susu dan daging, yakni peranakan antara kambing kacang dan kambing Ettawa yang berasal dari India dan dikenal dengan kambing PE (Kambing PE Penghasil Daging Sekaligus Susu. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol. 23 (4), 2001).
Dalam laporan penelitian itu disarankan agar ternak kambing yang jantan dibesarkan untuk dimanfaatkan dagingnya, sedangkan ternak yang betina dibesarkan untuk diambil susunya. Diperhitungkan bahwa satu ekor kambing PE dapat mencukupi kebutuhan protein hewani asal susu untuk sebuah keluarga dengan 5 orang anggota keluarga. Budidaya kambing PE ini sudah menunjukkan keberhasilan di beberapa daerah sehingga sangat potensial untuk dijadikan proyek nasional bagi negara kita yang mayoritas penduduknya masih sangat rendah status gizi dan kemampuan ekonominya.

Related Post

Leave us a reply

*

*

4 × one =