Oleh Dr. Budi Handrianto, peserta program Kaderisasi Seribu Ulama Baznas-Dewan Dakwah

Sebelum berangkat haji, saya diberitahu kakak yang sudah berangkat setahun sebelumnya. Katanya, biasanya orang Indonesia banyak didatangi pengemis/peminta-minta di sana. Jamaah haji Indonesia terkenal pemurah. Setiap orang minta sedekah selalu dikasih.

Ketika itu, sore hari saya sedang ngobrol-ngobrol santai dengan istri di Masjidil Haram menunggu Maghrib. Lalu datanglah seorang pria arab berpakaian ihram dengan berbahasa Inggris mengaku dari Dubai, habis kecopetan. Dia tunjukkan tas pinggangnya sobek. Intinya minta sedekah. Sedikit agak enggan, sayapun cari-cari uang receh di tas pinggang saya dan ketemulah uang 4 real. Lalu buru2 saya berikan.

Setelah shalat Maghrib saya menunggu istri di pintu dekat orang2 sa’i. Tiba2 masuklah seorang wanita tua, dengan jalan terbungkuk-bungkuk ia membagi-bagi uang. Setiap orang di depannya dia diberikan uang tanpa menghitung. Asal ambil, lalu dikasihkan. Tibalah wanita tadi di depan saya dan saya pun dapat jatah. Setelah mengucapkan syukran saya lihat uang di tangan saya dan ternyata, berapa saya dapat dari ibu tersebut? 40 real! Subhanallah…sedekah dengan perasaaan enggan saja langsung diganjar 10 kali lipat. Saya pun dalam hati malu, beramal masih ragu-ragu. Ketika sadar, saya lihat lagi ibu-ibu tua tersebut sudah tidak ada. Saya cari-cari dengan berjinjit-jinjit saking banyaknya orang juga tidak ketemu. Itulah salah satu pengalaman haji saya 12 tahun lalu.

Attachments
  • pengalaman-haji

Related Post

Leave us a reply

*

*

4 × three =