Ahlul ‘ilmi membagi qurban ke dalam kategori umum dan khusus. Qurban secara umum pengertiannya adalah: “Segala yang mendekatkan manusia kepada Rabb-Nya, baik dalam bentuk sembelihan atau jenis yang lain”  (Wazarat Al Auqaf was-Syu’un Al-Islamiyah, Al Mausu’ah Al Fiqhiyah. Kuwait: 1404/1983, Juz 5:74). Jadi, tidak terbatas pada binatang, boleh dengan shadaqah dalam pengertian luas. Boleh dengan amal taat atau amal qurbah.

Imam Al-Kisâ’i mengatakan, qurban adalah nama bagi suatu amal yang bisa mendekatkan hubungan kepada Allah SWT, baik dalam bentuk nusuk (sembelihan), sedekah dan amal shalih secara umum.

Dari definisi qurban secara umum ini, Imam Ibnu Jarir At Thabari (224-310 H) memaknai qurban dengan: “Segala bentuk amal yang bisa mendekatkan seorang hamba terhadap Rabb-Nya dari jenis sembelihan, shadaqah maupun selain keduanya.”

Berbagai kebaikan terkandung dalam ibadah qurban. Allah SWT menyebutnya dalam Surah Al Hajj: 36-37: “wal-budnu ja’alnaaha lakum min sya’aari’l-laah fiyha khayr” (di dalamnya terkandung kebaikan). Kebaikan itu meliputi berbagai aspek, baik spiritual maupun sosial dan dakwah.

Imam Ibnu Atsir dalam An-Nihayah Fi Gharibil-Hadits mengatakan, qurban itu apa yang Anda niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai sarana taqarrub dan wasilah mencari ridha Allah SWT.

Imam Ibnul Qayyim  Al Jauziyah dalam Madarijus Salikin, Juz 1:122 menyebut taqarrub ini dengan istilah manzilah al-qashdi; jenjang pencapaian  maksud dan tujuan, yaitu tangga yang menyampaikan seorang salik (penempuh jalan) untuk meraih mardhatillah. Al Baqarah ayat 265 mengibaratkan niat mardhatillah seperti kebun yang menghasilkan atau menguntungkan dua kali lipat. Imam Ibnu Zaid (w. Bashrah 179 H) menyamakan maqam mardhatillah dengan pahala jihad fi sabilillah. Dengan qurban, setiap orang berusaha merapat dengan segera ke sisi Allah (Az-Dzariyat : 50) dengan jalan mujahadah, yaitu lebih serius dan ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Qurban juga mengajarkan ihsan, yaitu berbuat baik terhadap Allah, manusia maupun terhadap binatang. Ihsan terhadap Allah dengan mempersembahkan hewan terbaik dari jenis terbaik. Ihsan terhadap manusia dengan membagi daging hewan qurban kepada mustahik.

Tidak ada balasan ihsan kecuali ihsan juga (Ar-Rahman: 60). Ihsan kebaikan tanpa batas, sebab Allah berfirman; wa ahsin kamaa ahsana’l-laahu ‘alaik, berbuat baiklah seperti Allah berbuat baik atasmu (Al-Qashash: 77).

Dalam hadits Syaddab bin Aus Al Anshari ra, Nabi SAW menyuruh untuk berlaku ihsan terhadap semua makhluk Allah, yang hidup maupun yang sudah mati, manusia maupun binatang.

Aspek qurban lainnya adalah syi’ar. Qurban bagian dari syi’ar Islam yang selayaknya diagungkan dan disemarakkan (Al Hajj: 32). Qurban disyiarkan dengan takbir, tahmid dan tahlil.

Saat berkunjung ke Desa Solan, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Propinsi Maluku, pada 26-27 November 2009, kami terkejut. Warga desa ini sudah menjadi muslim sejak 9 tahun sebelumnya. Namun, mereka sepertinya belum mengenal Idul Adha. Kami bersama Ketua Dewan Da’wah Propinsi Maluku Ustadz Abu Imam Abdurahim Rumbara, terkaget-kaget, karena suasana Lebaran Haji sama sekali tak terasa di Solan. Idul Adha, bagi umumnya warga setempat, masih dianggap seperti hari-hari biasa, tanpa perlu persiapan dan perayaan istimewa.

Untuk menghidupkan suasana, kami lalu meminta takmir masjid mengumandangkan takbir lewat pengeras suara. Ini pun tidak lancar, karena listrik jarang hidup.

Saat itu, ternyata, belum ada yang bisa membaca Al Fatihah. Bahkan berwudhu pun mereka masih belum benar.

Alhamdulillah, dengan memotong seekor sapi qurban di Solan, kami mulai mendakwahi warga setempat.

Kini, setelah dibina da’i demi da’i yang silih berganti bertugas di sana, warga Solan sudah menjadi mukallaf yang produktif. Mereka sudah biasa sholat di gubug sambil menunggui ladang perkebunannya. Alhamdulillah.

Klik Qurban Online:

Attachments
  • 20170729091728_img_1996
  • 20170729091025_img_1989
  • qurban-banner

Related Post

Leave us a reply

*

*

4 × 1 =